"We're all in a journey in paths where love showers us, salvation & hope appear out of nowhere, if we only stop a while and take a closer look .."

Friday, April 26, 2013

Story Teller



Story Teller

by Felix Kurnia on Thursday, March 16, 2006 at 5:04pm
I’ve received 2 Audio CD’s from Nelly, my cousin (thx to Rico)

Both feature the artist Mark Schultz, a Contemporary Christian Singer i accidentally overheard in YM couple months ago. The title that has struck a chord in my mind continually is the song titled “He Will Carry Me”. Brought in a high-Richard Marx-like tone, it’s rocked, it’s a ballad, it’s orchestarated, to be brief, it’s awesome! Now, that there’s to album in my collection, i can see more than yesterday that God is faithful and that He’s never late.

So far, three songs from the album “Stories & Songs” have been a close friends throughout a hard working day. They titled “He Will Carry Me”; “Running to Catch Myself”; and “Times That Left”.

No wonder this guy have been experiencing what i’ve been doing, feeling, thinking, struggling. How to keep believing n being a powerful witness in the midst of hectic daily lives.

Hope i’ll be writing again soon …

GBu all

Nikodemus, Kualitas Seorang Pemenang




Sambil mencari-cari artikel mengenai kehidupan Nikodemus sebagai bahan renungan komunitas sel band Saya, Saya menemukan terjemahan Yunani dari nama tersebut.  Nama “Nikodemus” diambil dari nama Yunani “Νικόδημος” (Nikodemos) yang berarti “pemenang di antara kaum/bangsa nya”.  Nikodemus sendiri memiliki peran dan kisah yang unik di mana sebanyak tiga kali ia muncul dalam kisah Injil Yohanes.  Yang mengejutkan adalah bahwa dalam ketiga peristiwa tersebut ia ada bersama dengan Yesus.  Kita akan menemukan lebih banyak kejutan dan pesan-pesan yang luar biasa seiring penelusuran kita.



1. Keterbukaan Hati yang Membuka Jalan kepada Pewahyuan

Saat kita mengawali kisah pertama pemunculan Nikodemus (Yohanes 3:1-21), Saya yakin beberapa dari kita yang telah akrab dengan kisah ini tidak terpikir untuk segera bertanya kepada diri sendiri bagaimana bisa seorang Farisi seperti Nikodemus terlibat dalam dialog yang begitu hangat dan menginspirasi dengan Yesus Kristus.  Karena kebanyakan kita mengetahui bahwa sepanjang sejarah banyak orang-orang Kristen yang memahami hubungan antara Yesus dengan kaum Farisi sebagai hubungan yang disfungsional / tidak harmonis.  Orang Farisi memaki Yesus dan Yesus balas memaki. 

Namun kini kita temukan, seorang Farisi, menatap mata Sang Anak Manusia saat Ia mengumandangkan suatu pernyataan bersejarah, siapakah Ia sebenarnya dan bagaimana seseorang dapat memiliki jalan masuk kepada Tuhan di dalam kekekalan untuk selamanya.  Bukan seorang nelayan Galilea yang bersahabat, bukan seorang pedagang atau tukang kayu Yudea yang rendah hati,namun seorang Farisi, yang biasa dikenal dengan keangkuhan dan kebencian mereka kepada Yesus.

Sambil membuka referensi berharga lainnya mengenai Nikodemus, Saya menemukan bahwa ia bukanlah seorang Farisi biasa, ia adalah anggota Sanhedrin, mahkamah agung Israel kuno.  Dengan pemahaman yang prima akan Hukum Taurat, Firman Allah dan pengajaran para nabi di masa dahulu ia berkata, 

"Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."  (Yohanes 3:2)

Hampir setiap orang Farisi mempertentangkan Taurat dan Kitab Suci dengan Yesus, tetapi tidak Nikodemus.  Hati yang terbuka telah memberikan Nikodemus kerangka berpikir dan sudut pandang dengan benar, adil, dan seimbang terhadap Yesus.  Dan sebagai hasilnya kemenangannya tercatat selamanya dalam Injil saat dia mengungguli semua rekan-rekannya, menjadi saksi saat Yesus mengatakan untuk pertama kalinya tentang perlunya sebuah kelahiran kembali secara spiritual dan tujuan kedatangan-Nya. Hanya dengan hati yang terbuka kita bisa menghindari muslihat pikiran dan menerima wahyu yang benar dan jelas dari Tuhan melalui hal-hal yang kita tahu, jika tidak kita akan berbalik melawan Allah dengan menggunakan pengetahuan kita sendiri.  Hati yang terbuka membuka jalan bagi pewahyuan.



2. Kerendahan Hati Menyenangkan Allah



Kesempatan kedua adalah di hadapan umum dan tidak begitu menyenangkan.  Tercatat dalam Yohanes 7:43-52 bahwa ketika orang-orang Farisi marah oleh ajaran-ajaran Yesus dan tentu saja, popularitas-Nya, mereka mencoba menangkap Dia, sekali lagi berdasarkan pengetahuan mereka.  Mereka bersikeras bahwa latar belakang Yesus dan – pada saat itu entah bagaimana kemudian mereka jadkan dasar untuk menyimpulkan daerah asal-Nya – menjadi alasan yang cukup baik untuk menempatkan Yesus di balik jeruji dan menghentikan pelayanan-Nya.


"Yah, Dia bergaul dengan orang Galilea, Dia mulai ajaran-ajaran-Nya dari Galilea, tidak ada nubuatan yang mengatakan tentang seorang nabi yang datang dari Galilea, jadi Dia orang Galilea!"  Wah, hebat sekali teman-teman ...


Wow, mereka tidak repot-repot bertanya kepada Yesus.  Mereka berasumsi. Mereka berprasangka dan lupa untuk melakukan apa yang benar, mereka lupa untuk berkomunikasi, mereka melumpuhkan kemampuan mereka sendiri untuk menganggap bahwa seseorang yang mereka aniaya mungkin tidak bersalah.


Mereka begitu menjunjung tinggi diri dan prasangka mereka dan menggunakan Hukum Taurat untuk melayani agenda mereka sendiri.  Mereka memaksakan Yesus ke dalam “kotak” mereka dan jika Dia tidak pad di dalamnya maka Dia bukan Tuhan.  Saya pikir itu bisa dimengerti, karena saya sendiri dalam semangat saya untuk Tuhan dan upaya membela nama-Nya mungkin melakukan hal yang sama.  Tapi sekali lagi – ya ampun – sekali lagi, tidak demikian dengan Nikodemus!


Pada masa mereka tidak memiliki hak Miranda (hak yang dibacakan dalam penangkapan seorang tersangka di Amerika Serikat), mereka tidak memiliki semua pakta atau perjanjian yang indah tentang mengenai hak asasi manusia maupun praduga tak bersalah.  Namun demikian, Nikodemus tetap muncul sebagai pemenang di depan rekan-rekannya, di depan masyarakat, bahkan di depan peradaban waktu itu, ia membela kebutuhan manusiawi Yesus untuk ditanyai dan diadili.  Dia lakukan itu dari kerendahan hati bahwa tidak ada seorangpun yang lebih tinggi dari hukum.  Dan dengan kerendahan hati, ia menempatkan Yesus di tempat yang tepat.


Tentu saja kita tahu ribuan tahun kemudian bahwa Yesus sebenarnya sama sekali bukan orang Galilea asli. Tentu saja kita tahu sekarang bahwa Dia sebenarnya seperti para ahli agama yang cerdas dan penghafal ayat tersebut katakan: 
”Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” (Yohanes 7:42) – Yesus MEMANG lahir di Betlehem, Yesus MEMANG berasal dari garis keturunan Raja Daud, dan Yesus ADALAH Mesias.

Nikodemus mungkin nampaknya telah kalah dalam sebuah perdebatan, namun ia memenangkan perkenanan Allah.  Meskipun kita tahu bahwa akhir kisah tersebut bukanlah mengenai pembelaan yang berhasil bagi Yesus.  Namun sebaliknya, kehancuran-Nya, sengsara-Nya, dan akhirnya kematian-Nya lah yang membawa akhir bahagia bagi umat manusia, dan lewat semuanya itu, kebangkitan-Nya lah yang terus memberikan kehidupan, pengharapan, dan kemenangan bagi kita.

Setelah segala tindak dan tutur kata, Nikodemus membuktikan dirinya sebagai pencinta kebenaran dan hamba Yahweh, Tuhan Yang Mahakuasa yang dilayaninya dengan rendah hati.
Kita tidak akan pernah menjadi pemenang jika kita memperlakukan Allah dengan tidak benar.  Kerendahan hati memampukan seseorang untuk memperlakukan Allah dengan benar.  Kerendahan hati menyenangkan hati Tuhan.

3. Hanya Mereka yang Bergairahlah yang Mencapai Impian-Impian Allah

Sore itu adalah sore yang kelabu bagi para pengikut Kristus, sore yang teramat sangat kelam.  Di hadapan mereka terbaring jenazah seorang terhukum.  Dituntut atas penistaan dan tuduhan tanpa bukti mengenai usaha kudeta atas kekuasaan Kaisar, seorang pengkhotbah muda Yahudi telah dijatuhi hukuman mati.  Dialah Yesus sendiri, terbaring di sana, diam, tanpa daya, tanpa nyawa.  Mata yang basah dan berkaca menatap ke bawah sambil mereka menyiapkan pemakaman Harapan mereka sendiri.  Sepasang di antara kumpulan mata tersebut adalah milik Nikodemus.


Saya tak dapat mebayangan  apa yang dirasakannya hari itu.  Sedih?  Putus asa?  Bingung?  Sepertinya kita takkan pernah tahu.  Namun satu hal yang dapat kita perhatikan adalah seseorang yang sedang member penghormatan dengan tindakan terbaik yang dia ketahui masih mungkin untuk dilakukan guna menjunjung seseorang yang baginya begtu mengagumkan, penuh kasih, dan tanpa cela. 

Tindakannya menyumbangkan mur (sejenis wangi-wangian yang rasanya pahit yang digunakan khusus untuk penguburan) dan rempah-rempah untuk pemakaman Yesus mengembalikan ingatan Saya pada peristiwa kurang lebih 30 tahun sebelumnya dimana salah satu dari Tiga Orang Majus mempersembahkan mur untuk Sang Bayi Yesus, secara profetik (nubuatan) mengumumkan tujuan kedatangan Yesus yatu pengorbanan dan kematian.  Nikodemus secara tidak sengaja menggenapi nubuatan tersebut dan dengan demikian turut meneguhkan jatidiri kemesiasan Yesus.  Sebuah tujuan yang tak salah lagi telah dipatrikan Allah ke dalam kehidupan Nikodemus secara khusus dan ia menggenapinya.

Mungkin kita tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita.  Namun saat kita terus melangkah dan mempertahankan gairah, cinta, dan penghormatan kita kepada Allah, seperti halnya Nikodemus, kita takkan pernah tahu hal-hal indah dan besar seperti apa yang sedang dipersiapkan Tuhan untuk kita miliki, alami, dan capai.

Seiring berlalunya kita dari musim kehidupan yang satu kepada yang lainnya, kita akan mulai melihat dan menyadari suatu kebenaran, bahwa segalanya datang untuk pergi.  Apakah yang lebih berarti dan memuaskan selain berhasil melaksanakan rencana Tuhan?  Dapatkah ia dibandingkan dengan apapun yang kita miliki ataupun tidak miliki dalam kehidupan ini?  Karena tidak ada yang dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah selain rahmat karunia-Nya, dan berada bersama-Nya serta melaksanakan segala keinginan-Nya menjadi kebahagiaan dan kepuasan terbesar di atas segalanya.
Sebagaimana sering kita dengan orang berkata “Hanya mereka yang bergairahlah yang berhasil”, Ijinkan Saya mengatakan demikian mengenai Nikodemus, sang pemenang, “Hanya mereka yang bergairah akan Tuhan lah yang berhasil meraih impian-impian Tuhan”.

Tuhan memberkati
Felix Zhao 

Nicodemus, Quality of a Victor


Quality of a Victor

by Felix Kurnia (Notes) on Sunday, March 20, 2011 at 4:34pm
As I looked for the articles on the life of Nicodemus for a weekend short sermon in my band cell group, I stumbled upon a Greek translation of the name.  The name “Nicodemus” was derived from a Greek name “Νικόδημος” (Nikodemos) which means “victorious among his people”.  Now, it happened that Nicodemus himself has a unique role and stories in which he appeared in three separate occasions so noted by the Gospel of John.  In those three occasions surprisingly, he’s with Jesus.  We’ll find more surprises and awesome messages as we move along.


1. An Open Heart That Paves the Way for Revelations

As we begin the first story and appearance of Nicodemus (John 3:1-21), I believe some of us familiar with the story wouldn’t bother to instantly ask themselves how could a Pharisee like Nicodemus be involved with such warm and inspiring dialogue with Jesus Christ.  For most of us know that along the history many Christians understand the relationship between Jesus and the Pharisees as a dysfunctional one.  The Pharisees yelled at Jesus and Jesus yelled back.  But here we have it, a Pharisee, looking at The Son of Man straight in the eye as He proclaimed a historical statement, who He really is and how a person can have access to God in and for eternity.   Not a friendly Galilean fisherman, not a humble Judean merchant or carpenter, but a Pharisee, known for their arrogance and hatred toward Jesus. 

Now, as I open other great and helpful references on Nicodemus, I found out that He’s not just a typical Pharisee; he’s a member of the Sanhedrin, the supreme court of ancient Israel.  With prominent understanding of the Law, God’s Word and teachings of ancient prophets, he said, 

“Rabbi, we know you are a teacher who has come from God. For no one could perform the miraculous signs you are doing if God were not with him.”  (John 3:2-NIV)
 
Almost every Pharisees contradict The Law and The Scriptures with Jesus, but not Nicodemus.  An open heart has provided Nicodemus with a right, balanced, and fair mindset and worldview toward Jesus.  And as a result his victory was recorded forever in the Gospel as he went passed all his colleagues, to be a witness of Jesus saying for the first time about the need of a spiritual rebirth and the purpose of His coming.  Only with an open heart can we avoid the deception of the mind and receive a true and clear revelation from God through things we know, otherwise we’d turn against God using our own knowledge.  An open heart paves the way for revelations.

2. Humility Pleases God

The second occasion was in public and not so pleasant.  It was recorded in John 7:43-52 that when the Pharisees was upset by Jesus teachings and of course, popularity, they tried to make an arrest on Jesus based on their knowledge, again.  They insist that Jesus’ background and which at that time somehow led them to assume His origin was a good enough reason to put Jesus behind bars and stop His ministry. 

“Well, He hangs out with Galileans, He start His teachings from Galilee, no prophecy have said about a prophet coming from Galilee, so He’s a Galilean!”  Well, way the go guys  ...

Wow, they didn’t even bother to ask Jesus.   They assumed.  They have their prejudice and they forgot to do what’s right, they forgot to communicate, they crippled their own ability to presume that somebody they’re persecuting might be innocent.

They put themselves and their prejudice on the pedestal and used the Law to serve their agendas.  They forced Jesus inside their box and if He did not fit, He’s not God.  I thought that was understandable, for I myself in my zeal for God and His defense might have done the same.  But once again – my gosh – once again, not Nicodemus!   

Back then they don’t have Miranda rights; they don’t have all those wonderful pacts or treaties on human rights nor the presumption of innocence.  But still, Nicodemus went out victoriously ahead of his colleagues, ahead of his people, even ahead of his civilization, defending Jesus essential need as a person to be tried and questioned.   He did that out of his humility that no one is above the Law.  And with his humility he put Jesus in a proper place.

Of course we know thousands of years later that Jesus in fact wasn’t at all a Galilean.  Of course we know now that He’s in fact as those smart, scripture and verse memorizing clerics said:

“Does not the Scripture say that the Christ will come from David's family and from Bethlehem, the town where David lived?” (John 7:42-NIV) – Jesus WAS born in Bethlehem, Jesus WAS from King David’s lineage, and Jesus IS the Messiah.

Nicodemus might have lost a debate, but he won favor in God’s eye.  Although we know that the end of the story was not about successful defense on Jesus’ behalf. Instead, it  is His fall, His sufferings, and finally His death that brings happy ending to all of mankind, and through all that, His resurrection has been bringing life, hope, and victory to us ever since.  After all been said and done Nicodemus proved himself to be a lover of truth and a humble servant of Jehovah, the Almighty God that he served.

We can never be winners if we mistreat God.  Humility enables a person to treat God right. Humility pleases God.

3. Only The Passionate for God Achieve God’s Dreams


It was a gloomy afternoon for all Christ follower, the darkest as dark can be.  There before them lay a dead body of a convict.  Charged of blasphemy and the unproved allegations of coup d’état against the Caesar, a young Jewish preacher was sentenced to death.  It was Jesus Himself, laid there quietly, powerless, lifeless.  Eyes filled with tears stared down as they prepare the burial of their own Hope.  Two of those eyes belonged to Nicodemus.

I can’t even begin to imagine what he must have felt that day.  Sad? Frustrated? Confused?  I guess we’ll never truly know.  But all we can see was a man paying his respect with the best action he know possible to honor a man whom to him was so admiring, loving, and blameless. The act of donating myrrh and aloes for the burial of Jesus reminds me in the event about 30 years before, in which one of the Three Wise men offered myrrh to little baby Jesus, prophetically announce Jesus’ purpose of sacrifice and his death.  Nicodemus unintentionally fulfilled the prophecy and thus confirmed Jesus’ true identity as the Messiah.  A purpose God unmistakably imprints solely in the life of Nicodemus and he fulfils it.    
We might have known exactly what’s been going on in our lives.  But when we move on and maintaining out passion, love and respect toward God, just as Nicodemus did, we can never know what wonderful and great things God has been preparing in store for us to have, experience, and to achieve.

As we move from one season of life to another, we begin to see and realize one truth; that everything comes to pass away.  What would be more meaningful and satisfying than to achieve God’s plan?  Can it ever be compared to whatever we might have or not have in this life?  For nothing brings us closer to God more than His grace, and to be with Him and to do His will is the greatest joy and satisfaction of all.
As we often heard people say “Only the passionate achieves”, Let me say it regarding Nicodemus, the winner, “Only The Passionate for God Achieves God’s Dreams”.


God bless you
Felix Zhao

Berbuah Sampai Patah


Berbuah Sampai Patah

by Felix Kurnia  on Thursday, September 8, 2011 (FB) at 9:22pm
Hari ini Saya menemukan pemandangan yg menurut Saya sangat unik, saking tak rela melewatkannya, segera Saya bidikkan kamera Blackberry utk mengabadikannya.

Sebenarnya sudah berhari2 saya memperhatikan pohon pisang di halaman belakang kantor Saya, tandan nya begitu penuh berisi & meski semua masih hijau, pisang2 itu sudah cukup besar. Siang ini sesuatu yg mengejutkan terjadi. Baru Saya sadari ternyata batang pohon yg menopang tandan berisi mungkin lebih dari 100 sisir pisang itu telah patah sehingga pohon tsb ditopang oleh beberapa batang besi bekas.
Serius, seumur hidup baru pernah Saya melihat dahan pohon pisang yg patah gara2 keberatan buah!

Pemandangan itu spontan membuat Saya tertegun.  Seolah Saya ditantangnya, sudahkan kamu "berbuah" sedemikian lebat & banyak hingga kamu tak sanggup menopangnya?  Saya dibawa lagi oleh Tuhan yg sungguh baik itu utk bertanya jujur,
"Apa sih makna buah bagi kamu?"
"Apakah ketenaran? Apakah jumlah aset? Apakah banyak rekaman dan karya yg Saya buat? Atau bahkan apakah pesan inspirasi yg non stop Saya ketikkan utk org2?"

Larut malam setelah Saya pulang & menuliskan pengalaman ini, barulah pemahaman menjadi lebih jernih.
Tidak, tentu saja bukan semuanya itu.
St. Paulus mengatakan bahwa buah roh adalah "Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, dan Penguasaan Diri".
Saya tertegun lagi & tersenyum, sungguh terasa Tuhan yg RohNya lembut itu mengajar Saya perlahan, bahkan di tengah kesibukan & kelelahan.

Hanya kasih & kawan2nya lah yg pantas membuat kita melahirkan begitu banyak hal baik hingga "batang" tubuh kita alias "hawa nafsu" jasmani kita ditundukkan atau bahkan dipatahkan olehnya.  Mungkin hingga ekstrem tertentu (bukan dlm konteks tdk menjaga kebugaran), Saya hendak mengutip nasehat kawan lama dan mentor musik Saya,
"Kalau masih muda, bekerjalah sekeras mungkin, walau capek ataupun sakit, tubuh org muda cepat pulih dgn istirahat."

Tubuh kita tdk pantas dilelahkan oleh hal2 yg tdk sejati & tdk bernilai kekal, pikiran kita diciptakan utk mengatakan "sorry, ak ga level" sama BT, negative thinking, kekhawatiran, egoisme & kepentingan sesaat.

Oya, bagaimana kabar si pohon pisang? 

Setelah Saya tinggal bekerja kira2 satu jam, Saya kembali ke lokasi yg sama.  Saya sungguh terkejut krn ternyata pohon itu ternyata sudah ditebang & buah dari tandang raksasa itu sudah dipotong2 dlm tandan2 yg lebih kecil.  Ternyata hari itu manajemen yg memang sudah Saya ketahui mempunyai rencana perapihan dan pemangkasan tanaman menjalankan rencana tsb.  Saya hanya tak menyangka bahwa 1 jam sblmnya adalah kesempatan terakhir utk mengabadikan si
pohon.  Dengan bergetar saya memandangi kembali foto yg baru sejam lalu saya ambil.  Nothing last forever :)

Hari ini, pohon pisang yg malang itu mengajarkan hal penting kpd Saya & mudah2an utk kita semua.

Kita semua tahu, saatnya akn tiba utk kita mempertanggungjawabkan semua aksi kehidupan kita.  Kita hanya tak pernah tahu kapan saatnya.  Bahkan tak ada yg tahu apa yg akan terjadi pada siapapun termasuk diri kita sendiri satu jam dari sekarang.  Yg akan tertinggal adalah tandan2 hati kita yg dinikmati (atau menyakiti) org2 yg kita tinggalkan kelak.

Let's be honest. Selama hidup dlm dunia kita butuh uang & harus cerdik, namun apa yg jadi agenda tersembunyi kita di balik siasat & alokasi aset kita (uang, waktu, dll), itulah indikator kepada siapakah kita berpihak, siapakah atau apakah yg kita sembah.

Kata bijak dlm kitab suci menyampaikan bahwa inti dari semua hukum Tuhan & kitab para nabi adalah mengasihi Tuhan segenap hati & mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Saatnya mereinventarisir dan hidup utk hal2 terpenting. Love God, love people.

Blessings,
Wartawan pohon pisang

Felix Zhao