"We're all in a journey in paths where love showers us, salvation & hope appear out of nowhere, if we only stop a while and take a closer look .."
Showing posts with label Character. Show all posts
Showing posts with label Character. Show all posts

Saturday, June 13, 2015

Most Times It's HOW You Say It

Most Times It's HOW You Say It

3 Petunjuk untuk menjadi orang yang dikasihi atau dijauhi


Berbicara adalah hal yang tidak mungkin kita hindari dalam keseharian.  Sebagian kita malah sangat suka melakukannya, bahkan ada yang penghidupannya bergantung dari berbicara.

Namun sadarkah kita, ada sejumlah hal yg seringkali terlewat saat kita berbicara kepada orang lain? 





1. Pertimbangkan Jenis Kelamin

Saya dibesarkan dalam lingkungan yang mengatakan bahwa perempuan adalah "makhluk cerewet".  Apa betul?  Tergantung bagaimana cara kita melihatnya.

     Riset di Maryland University of Medicine 2013 menyimpulkan bahwa wanita berbicara rata-rata 20.000 kata per hari, sedangkan pria hanya 7.000 kata per hari.  Dalam buku "Clinical Measurement of Speech and Voice" (Baken, R.J., 1987) dikatakan bahwa frekuensi suara pria dewasa berkisar antara 85 - 180 Hz, sedangkan wanita dewasa dapat menjangkau frekuensi 165 - 255 Hz (tinggi nada melebihi 2x suara pria).  Wanita juga memiliki kemampuan dan perkembangan linguistik (tata pemahaman dan ekspresi bahasa) lebih pesat ketimbang pria sejak dari usia dini.  Sebagai tambahan, wanita juga dibekali dengan kepekaan perasaan dan intuisi tajam, sifat ini terkait dengan kemampuan mereka untuk mengingat rincian peristiwa dengan sangat baik bahkan yang sudah berlalu sangat lama, karena jaringan perasaan-perasaan mereka atas kejadian-kejadian tersebut berfungsi seperti marka jalan atau penanda buku.


     Para saudari, mohon menyimak bagian ini dengan seksama.  Jika melihat dari posisi pria tentu suara wanita yang notabene berbunyi lebih sering dan bernada lebih tinggi akan menjadi pengalih perhatian dan pemicu tekanan (stress) yang cukup efektif.  


Kecuali Anda memang ingin memulai sebuah pertengkaran atau bahkan permusuhan dengan seorang pria, kurangilah frekuansi pengucapan dan nada suara Anda, sampaikan "versi summary" Anda (diedit, dipotong, disensor :D) dan berusahalah bernyanyi "alto" dan simpan si cantik "sopran" saat Anda hendak memuji atau menyatakan kegembiraan.  Dengan demikian baik di waktu keluhan maupun pujian, duka dan gembira, si pria menangkap jelas maksud Anda dan tidak terjebak perdebatan tanpa ujung, namun dapat melakukan perubahan yang dibutuhkan jika ada.  Memang saat Anda berucap, kecewa dan gelisah jiwa terasa tersiar jelas dan membuat jiwa terasa lebih baik, namun bukankah perbaikan dan kebaikan yang nyata adalah perasaan terbaik yang sesungguhnya?


Para saudara, supaya adil dibaca juga ya.  Ya, saya katakan adil karena - sebagai contoh - dalam pernikahan pria umumnya "pendekatan" dan memuji saat pacaran dan mengumpat saat bulan madu usai. Pria didesain sebagai pemburu dan petarung, semua berporos pada kepentingan.  Mengapa kita berubah padahal yang kita puji dan kemudian umpat orangnya itu-itu juga? Sama saja :)  Seorang wanita adalah manusia sempurna dengan segala kebutuhan dan kemampuannya.  Laranglah ia berbicara maka sama saja bagai Anda diharuskan bernapas lebih jarang dalam semenit.  Ya, penyiksaan :) 
Jadi seorang wanita diberi "anugerah" kecenderungan "talkative" apa hal baiknya?  Ini dia ..

     Frekuensi pembicaraan wanita dapat menjadi indikator kualitas pribadi pria.  Sukses, sehat, kaya, semua sumbernya kualitas pribadi.  Jika wanita bisa cerewet untuk hal negatif yang dilihatnya pada diri Anda, kabar baiknya, ia juga -berdasarkan temuan- akan cerewet menyuarakan betapa baik & unggulnya diri Anda.  Jika Anda menyikapi cerewet dengan negatif Anda akan tetap menjadi negatif pula, saat Anda menanggapi positif keluhan wanita & melakukan upgrading terus menerus hingga tanpa sadar nada cerewet si wanita berubah merdu, Anda akan menjadi pria yang dikasihi banyak wanita dan dicemburui banyak pria :)

     Aspek perasaan wanita juga mengharuskan Anda lebih sering melakukan konfirmasi atau menyampaikan apa yang Anda pikirkan, entah itu keluhan maupun pujian.  Kebaikan seorang wanita bisa membahagiakan seorang pria namun jika pria itu mengatakan kebahagiaannya itu, ia membagi nya dengan wanita lawan bicaranya.  Anda bisa menyakiti pria dengan kepalan, Anda menyakiti wanita dengan kesunyian.


2. Pertimbangkan Usia

Pusing karena anak Anda tetap tidak patuh atau malas belajar meski sudah ditegur berulang kali?

Capek debat dengan orang tua, mengutarakan pendapat tapi serasa berbicara dengan pagar tembok?


Koq sudah ikut kuliah atau seminar berjam-jam tetap ilmunya tidak bisa dipahami, serasa terpental saat membentur kepala?


Mungkin penyebabnya adalah karena Anda belum memahami bahwa tiap rentang usia punya ciri khas komunikasi nya masing-masing.


Durasi Konsentrasi Menyimak


     Riset menjelaskan bahwa anak-anak hingga usia remaja memiliki durasi konsentrasi mendengarkan (dan memahami) perkataan seseorang (dalam satuan menit) berbanding lurus dengan usia nya.  Jadi jangan coba mentransferkan informasi penting (pelajaran, teguran dll) lebih dari 5 menit kepada anak berusia lima tahun.  Anda hanya akan menuai kecewa.


     Karena itulah setiap pelajaran / perkuliahan / seminar / presentasi membutuhkan banyak "ice breaking" / penyegar suasana dan bahwa mempelajari sesuatu terus-menerus terlalu lama (tanpa jeda, break atau refreshing), atau dikenal dengan "sistem kebut semalam" tidak akan berdampak positif, kalau pun hafal tak lama setelah diuji atau digunakan akan terlupakan.


Benteng Arogansi

     Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk mengabaikan pesan yang disampaikan dalam perkataan seseorang sebagai mekanisme pertahanan diri nya jika secara verbal / mental ia merasa "diserang", inilah sifat keras kepala yang menandakan adanya benteng arogansi.  Selain sikap keras kepala, benteng arogansi juga ditandai dengan sikap intoleransi.  Penghalang ini sedikit dijumpai pada anak-anak namun bertambah pengidapnya seiring pertambahan usia dan peristiwa-peristiwa traumatis dalam hidup. 


     Salah satu bentuk benteng arogansi di kalangan orang-orang dewasa lanjut usia (kebanyakan pria) adalah post power syndrome, gejala pertahanan diri berlebihan dalam berkomunikasi sebagai kompensasi hilang nya sesuatu yg dianggap sebagai kebanggaan dan jati dirinya, umumnya kekayaan atau jabatan.


     Bentuk lainnya adalah intoleransi dan chauvinisme.

Chauvinisme adalah bentuk kesetiaan terhadap suatu faham atau cara pandang tertentu tanpa memandang apakah hal itu benar atau salah.  Sifat ini juga mirip dengan intoleransi primordial / kesukuan karena tidak / kurang dapat menerima hal / faham lain yang berbeda.  Salah satu penyebabnya adalah lama nya menjalani kehidupan dengan cara tertentu atau bergaul dengan lingkungan komunitas yang sama dalam waktu yang sangat lama.  Seorang koki paruh baya yang tidak melatih "saraf" toleransi nya dan kurang berpikiran terbuka akan mempertahankan metode masak yang dipakainya sejak muda, ia akan berargumen bahwa cara lama ini sudah terbukti baik, ia bahkan menafkahi keluarganya berpuluh-puluh tahun dengan cara kerja demikian dan ia akan sangat meragukan apakah ada cara yang lebih baik.

Bagaimana berbicara di depan benteng arogansi?


     Mereka yang memasang benteng arogansi membutuhkan penghargaan dan perasaan bahwa mereka diterima apa adanya.  Jika Anda mengharapkan lawan bicara membuka diri terhadap gagasan baru yang Anda utarakan pertimbangkan secara seksama faktor perasaan mereka (akan dibahas berikutnya di bawah ini), dan jika suasana tidak memungkinkan alihkan ke topik lain atau sudahi percakapan.  Anda tidak perlu memenangkan setiap pertempuran kecil untuk dapat memenangkan seluruh peperangan.


     Setelah Anda memahami hal ini Anda tidak akan mengalah karena paksaan namun karena kesadaran bahwa tanpa empati dan kesabaran kata-kata Anda tidak akan merubah apapun.  Anda mengalah justru karena Anda memiliki kekuatan yang luar biasa untuk berkonsentrasi kepada tujuan akhir, sebuah gagasan yang diterima dan dipahami.


     Anda tidak berhasil karena menghadapi para penentang, Anda berhasil karena penentang berubah menjadi pendukung.



3. Pertimbangkan Perasaan

Berbicara tentang perasaan adalah hal yang cukup rumit, banyak hal yang relatif dan kasuistik di dalam nya.  Ada pengenalan kepribadian lawan bicara namun ada juga norma umum.

Berbicara tanpa dasar pemahaman & pengenalan


Kisah 1:  "Kidney Shock"


Suatu ketika setelah kelahiran putera kami, saya dan istri pergi berkonsultasi dengan seorang bidan.  Tapi jangan kaget kalau saya katakan bahwa saking cerdasnya, bidan ini menyandang S3! (tuh, ada yg pingsan)
Setelah memberi pesan dan beberapa pantangan kepada istri saya, si bidan langsung berujar, "Kamu koq masih muda rambut uda botak!?" (Makaciiiih)
"Ginjal kamu ada yg bermasalah tuh.."
Selebih nya entah mengapa saya sudah tidak ingat lagi apa yg dikatakannya.  Yang saya ingat hanya perasaan malu yang luaaar biasa :D  Saya bahkan tidak ingat apakah ia memberikan solusi selain mengutarakan masalah dengan begitu lantang.  Cerdas?  Iya!  But did it help me?  Sadly.. No :(

Kisah 2: "Virus di dalam pengawet"


Suatu kali saat putra sulung kami menderita demam tinggi, panas tubuhnya yang mencapai 39 derajat Celcius tentu saja membuat saya dan istri sangat sedih, hancur hati dan khawatir.  


     Sore itu, seorang kerabat datang berkunjung, di tengah percakapan tanpa di sangka ia berkata, "Makanya, jangan sering memberikan anak-anak minuman dalam kemasan, banyak sekali pengawet dan pewarna nya, berbahaya untuk kesehatan."  Saya spontan terperanjat dan cukup terpukul, berikut penjelasannya ..

     Putra kami didiagnosa menderita infeksi virus.  Adalah mengejutkan dan mengecewakan bagi saya bahwa sebagai kerabat dekat beliau tidak menanyakan dengan jelas mengenai diagnosa dokter, menu makanan putra kami.  Dia justru memutuskan untuk mempermalukan dirinya sendiri saat dia berkata tanpa pemahaman dan menjelaskan dengan jelas bahwa ia tidak mengerti perbedaan antara infeksi virus, bakteri, dan keracunan makanan.  
Tentu saja infeksi virus tetap akan menyerang jika terjadi kontaminasi, terlepas dari apakah produk pakan yang dikonsumsi all natural ataupun pakaged & preserved.  Tidak ada hubungan bahan pengawet makanan dengan infeksi yang diderita putera kami.  

Jika maksud Anda baik namun Anda tidak menunjukkan bahwa Anda cukup peduli untuk memahami latar belakang, kejadian, dan perasaan seseorang, meskipun maksud Anda baik, Anda hanya akan menimbulkan pertengkaran dan menebarkan kebencian.  Sedangkan gagasan yang ingin ada sampaikan dan Anda harapkan untuk diterima? Ga-Tot! (gagal total).


Berbicara atas dasar asumsi


Masih di kisah yang sama.  Terus terang perasaan kurang sreg saya juga didasari ingatan bahwa si penegur memandang saya terlalu sering memberikan makanan kemasan kepada anak-anak kami dan bahwa cara konsumsi alami seperti yang dipraktekkannya adalah yang terbaik. 


      Tanpa diketahuinya bahwa kami sekeluarga juga menerapkan pola makan yang sangat diusahakan selalu alami berhubung kami juga cukup memahami aspek kimiawi dan higiene suatu unsur senyawa termasuk bahan makanan dan dampaknya terhadap fisiologi tubuh.  Di sinilah asumsi meracuni komunikasi Anda.   Saat Anda menyimpulkan sendiri suatu hal tanpa klarifikasi.  Akhirnya pesan maksud baik berubah menjadi tuduhan yang menyakitkan.

Berbicara dengan empati


Anda mungkin bukan seniman, Anda mungkin tidak berkepribadian melankolis, namun aspek "seni" empati dalam berkomunikasi adalah tuntutan keberhasilan komunikasi untuk semua orang tanpa peduli latar belakang dan ciri kepribadian.  


     Komunikasi yang intim / akrab & berhasil berporos pada relasi / hubungan, bukan kalkulasi / perhitungan, apalagi transaksi.  Bahkan bisnis saat ini pun mengajarkan kita bahwa perasaan pihak kedua harus dipertimbangkan.  Siapa tidak kenal begawan marketing Bp. Hermawan Kertajaya?  Beliau bahkan mendalilkan bahwa "bumi kini telah menjadi venus", yang maksudnya pasar saat ini sangat mengedepankan sisi perasaan yg semula dipandang merupakan aspek feminin (disimbolkan dengan Dewi Venus) dan kelemahan dalam persaingan usaha.  


     Semua variabel seperti timing / pemilihan momen waktu yang tepat dan membaca suasana dari berbagai hal seperti nada suara, raut wajah, bahasa tubuh dll perlu dipahami dan mendasari perkataan kita (atau acap kali mendasari kita untuk sementara tidak perlu berbicara).



Kesimpulan ..

Memori manusia memang sangat dahsyat kemampuannya, CPU dan RAM terbaik dunia saat ini belum mampu menandingi kinerjanya secara sempurna.  Namun tetap ia mampu melupa.  Sebuah keajaiban yang hanya Anda jumpai dalam makhluk bernyawa, "ketidaksempurnaan".  

     Lalu bagaimana jika suata kala kelak Anda lupa, atau Anda ingat tapi "si menyebalkan" itu yang gantian lupa?  Anggaplah pihak lain lebih penting dari diri Anda sendiri dan prinsip kuno yang tak pernah mati ini pun akan Anda alami, "apa yang kau tabur akan kau tuai pula", lawan bicara Anda akan menanggapi langkah bijak Anda dengan bentuk komunikasi yang juga akan mendatangkan kebaikan bagi Anda.


     Suami / istri mengingat kembali janji nikah nya, para orang tua kembali ke detik Anda menimang buah hati saat belum genap sehari usianya, ingatlah senyum dan jatuh cinta nya Anda.  Ingatlah cinta Tuhan yg menjaga, mengirimkan tangan-tangan dan hati pribadi-pribadi baik, dan yang selalu berujar lembut di hati hingga hari ini.

     Setelah memahami hal-hal ini, kita dapat memperkuat keyakinan bahwa hidup mati memang dikuasai oleh lidah.  Dan keadaan seseorang, pertemanan, harmonisasi hubungan, kesehatan, perjalanan bisnis / karier dan bahkan keuangannya cukup banyak dipengaruhi oleh perkataannya, lebih tepat lagi bagaimana kata-kata dipilih dan diekspresikan.  Kini berpulang kembali kepada motivasi Anda untuk menggunakan pendekatan berbicara seperti apa.  Yang jelas setiap aksi ada reaksinya, setiap tindakan dan keputusan ada konsekuansi nya :)


     Mungkin blog ini tidak akan memberi pembahasan apalagi solusi sempurna namun jika kita mencoba merenungkan dan beradaptasi seturut prinsip-prinsip ini, sepertinya matahari akan bersinar lebih cerah esok pagi bagi banyak orang, termasuk Anda.




Salam dari yg masih gagap berbicara,

Felix Zhao


趙健忠

Wednesday, November 5, 2014

Memangnya Bisa Hidup Hanya dengan Cinta??

Pengkritik, haters, booers, seribu satu namanya tapi satu sikapnya, lebih memilih berfokus pada kekurangan orang lain & tidak toleran, alhasil mrk banyak sekali jumlahnya bahkan sering jadi mayoritas, namun sayangnya, "they become multitudes of nobodies" :)

Beda dgn si "aneh", ia tdk buru2 membuang sesuatu yg terdengar atau nampak berbeda, menahan diri dari mengejek sesuatu yg masih hijau atau sebaliknya.. sudah kuno.  Ia selalu berhenti sebentar, menarik selangkah kebelakang, mengamati seksama..
Mencari, menyimak, belajar, mencari keindahan tersembunyi.
Si aneh yg menggali2 partitur lagu berusia ratusan tahun berhasil menemukan dan merakit kembali progresi indah ke dalam aransemen electro pop dan loops DJ nya.
Si aneh yg tahun lalu memutuskan berhenti meniru2 bahasa asing yg tdk dipahaminya dgn nada mencibir kini menguasai 2 disiplin ilmu mekanik yg akan nyaris mustahil dikuasai dgn literatur bahasa ibunya.
Si aneh yang dulu berani berteman dgn banyak org berbeda keyakinan kini semakin dewasa dan mampu menjabarkan keyakinannya utk mengindahkan hidup semua umat melintas batas.

"You can't live outside what you love, so the only way to expand is to learn to love more and let love gives you growth"

Beliau yg memberi hidup adalah Cinta
Mereka yg mengamalkan Cinta akan hidup sepenuhnya, menjadi berhasil dan bahagia :)

Saturday, August 9, 2014

Hemat vs Pelit

Mohon maaf kalau blog ini agak "to the point", tapi mungkin ada baiknya sebagai sarana otokritik dan evaluasi diri demi menjadi pribadi yg lebih baik & mulia :).. Enjoy the  reading :)

Kata org beda antara hemat & pelit itu tipis, apa betul?

Yuk kita disimak & silakan menyimpulkan / merenungkan..

Hemat :
Orang hemat mengatur harta seefisien mungkin dgn attitude seorang manager / pengelola / pengurus meski ia sebenarnya mgkn seorang owner / pemilik.  Sibuk seperti pembantu dan cerewet seperti mandor :)
     Sibuk tapi bukan workoholic, cerewet tapi karena terlalu peduli & empati, karena ia memiliki goal tertentu yg diyakini menjadi alasan & tujuan mengapa meski setitik nama & sekejab usia ia boleh ada di dunia.  Mimpi besar dimana utk mencapainya memang perlu biaya.  Hidup si hemat berpusatkan Tuhan. Wujudnya?  Cinta keluarga dan sesama.  Ia yakin akan cinta Tuhan sehingga ia melakukan apa yg baik & benar meski tanpa dukungan, ia terus maju dengan senyum ramah dan ketegasan santun, tak merasa perlu buru2 menuntut, memanipulasi, apalagi mengintimidasi.
     Ia suka menolong & menderma, tenggang rasa nya tinggi di atas rata2 karena ingat dia sendiri pernah hidup susah, tak ingin mimpi buruk itu kembali menimpa org lain.
      Si Hemat biasanya KURANG tidur, sibuk dgn project2 yg kebanyakan melibatkan & menghidupi org banyak.

Pelit :
Bagi manusia pelit semua adalah busness deal, tdk perduli keluarga, sesama, dan Tuhan. Usai memberi, sedekah / persembahan dgn dijatah ia tak mau d usik lagi, malahan ia hrs dpt imbal balik. 
    Jika ia ditanya visi & panggilan hidup? Jawabnya politis di awang2 dan berputar2, tapi berbicara "keuntungan", pikirannya sangat "lugas", hitung2an pun jelas.  Sibuk atau enggan, menghilang atau menebar pesona, semua berpusat & berhenti sampai laba.
     Menahan pengeluaran & mencari kesempatan tanpa empati kecuali pada diri.  Nurani si pelit terkubur trauma karena pernah hidup susah. Ketakutan, tak ingin mimpi buruk itu menimpanya kembali.
     Biasanya ia TIDAK bisa tidur, insomnia, takut gagal, investasi hangus, harta habis.  Harta terus dikejarnya meski telah segunung ia punya, namun bahagia yg nampak di wajah dan tutur kaum papa malah tak kunjung diraihnya.

Amsal 11:24-25
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Matius 6:20-21,33
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada... Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Ada org yg bilang bahwa waktu terlalu berharga utk buang2 waktu memikirkan makna, panggilan, nilai2 & tujuan hidup, banyak kebutuhan & peluang yg mendesak utk dihadapi & dipenuhi. Namun ternyata renungan ini menunjukkan sebaliknya.  Cara pandang & cara menyikapi harta ternyata akan menentukan siapa kita & ke mana tujuan akhir kita.
"Hanya" cara pandang, sedemikian dahsyat bukan? :)

Yuk, hari ini kita sama2 evaluasi mulai dari diri.

God bless :)
FZ

Thursday, June 26, 2014

Ketegasan utk Suarez "The Vampire"

Ketegasan utk Suarez "The Vampire"
Refleksi kepastian vs janji doank atas kepastian & penegakan hukum Indonesia pasca 9 Juli 2014

Saya bukan fans bola, tp dgn begitu mudah2an pesan ini justru lebih sampai & mengena :

Bbrp hari berlalu today baru smpt lihat aksi Suarez yg kena sanksi FIFA gara2 aksi "vampire" nya :) Kamera jelas menunjukkan posisi rahang nya yg menukik ke bawah sehingga sulit sekali dikatakan bahwa itu kecelakaan / ketidaksengajaan.  Namun demikian masih bisa2nya pemain tsb "acting" kesakitan seolah dialah korbannya.

Memang manusia d dunia ini beda latar & 1001 "model" & lagaknya, tp dunia akn trs berputar dgn baik & nyaman utk semua jika aturan, hadiah & hukuman tegas & jelas buat semua.Jadi mari tilik sama2 Capres mana yg dari kampanye saja sdh melakukan begitu banyak pembiaran atas anarkisme, hanya memberikan alasan2 dan adu argumen membela diri dan melestarikan iklim intimidasi alias ancam mengancam.

Selamat memilih 9 Juli nanti, salam Indonesia hebat.  God bless Indonesia.

Tuesday, December 17, 2013

Mimbar (probably my shortest blog ever)

Aku mengenal seorang aktivis gereja yg menyindir pahit pegawainya yg usai berkabung dan menemani anak bayinya berobat hanya lantaran waktu absen nya tidak menghasilkan apa2 utk perusahaan..

Aku pernah bekerja di bbrp tempat yg hampir tiap hari mengadakan ibadah bersama..

Aku mengenal mrk yg memberi janji kosong di saat paling tepat yaitu saat sesamanya paling memerlukan .. dan mrk merasa berjasa..

Aku mengenal mrk yg tanpa hubungan darah menganggap si lemah dan buruk rupa sbg saudara, memberi kata namun juga sarana utk berusaha dan kembali tegakkan kepala..

Apa yg kupelajari dari semua?

...

Dlm hidup ibadah dan sembah terbesar adalah di luar sana..

Sedangkan mimbar..
tetap hanya akan menjadi mimbar :)

Tuesday, July 16, 2013

Jangan Meremehkan Sebuah Koin!


Pagi ini saya bangun dengan perasaan tidak enak. Bagaimana tidak, sudah hampir seminggu saya tidur di atas pukul 2 pagi krn beberapa project yang ditangani sekaligus. Maklum, sdh lepas dari meja kantoran & hrs menciptakan "kestabilan" yang baru :) Pagi itu mendadak istri mengeluh tidak enak badan dan Saya sarankan dia berbaring sejenak utk memulihkan tenaga. Dgn tubuh Saya sendiri yang meski baru bangun tidur namun serasa digebuki org se-RT, saya mencoba menawarkan bantuan yang mungkin akn meringankan derita kekasih hati yang lelah menjaga anak2 kami yang imut2 & sdg aktif2nya ini.  Saat ini "the older boy " berusia 4.5 tahun & his baby boy 1 tahun, jika mrk sdg main berdua rasanya seperti melihat boneka kelinci baru dipasangi baterai Energizer baru!! Terus! Terus! Terus!... :D

Kembali ke bantuan tadi, saya memutuskan memberi resep warisan leluhur yang meski sarat kontroversi namun terbukti manjur..KEROKAN!!Maka lanjutlah Saya dgn segenggam iman, meski rasanya justru ingin berbaring & dikeroki, kini saya menjalankan giliran & bagian Saya dahulu.  Mungkin ini yang namanya jadi pelaku Firman :)Selanjutnya kesibukan sehari2 nampak seperti biasanya.  Namun sesuatu yang berbeda muncul menjelang malam hari.

Setibanya istri di rumah, ia menceritakan kisah ini.  Supaya Anda tidak bingung ijinkan Saya menjelaskan bahwa istri saya tengah menjalani serangkaian terapi pada tulang belakang nya yang belakangan menimbulkan nyeri pada posisi2 tertentu.  Ternyata hari itu saat diterapi ia diberitahukan bahwa terapi tidak dpt dilakukan maksimal apabila pasien kerokan karena sejumlah pembuluh darah mengalami pecah. Sebagai kompensasi klinik tersebut tetap menjalankan terapi yang lebih ringan, tanpa dipungut bayaran sama sekali & sisa jatah terapinya tidak berkurang utk pertemuan berikutnya.Perlu Saya jelaskan di sini bahwa nilai / harga terapi per sesi nya saat ini cukup mahal bagi kami yang secara keuangan sedang berjuang.  Dan bagi kami kejadian tak terduga hari itu menjadi semacam mukjizat yang cukup besar.  Semua karena kerokan beberapa jam sebelumnya,

Saya tertegun dan merenungkan pelajaran indah ini:

Menjadi manusia yang terbatas ruang & waktu sekilas nampak tidak menyenangkan, namun dalam ketidaktahuan akan apa yang bakal terjadi itulah kita dpt mensyukuri hal-hal yang kemudian terjadi dan menjadi mawas diri di dalam menjalani kisah-kisah kehidupan selanjutnya.  Menaruh harap & percaya pada Tuhan yang pasti takkan salah berencana, kita dapat memilih melakukan yang terbaik di saat pilihan yang lebih "rendah" nampak masuk akal & bisa diterima.

"Do With ALL Heart, It's Always Worth It"

Ahli terapi uang logam
Felix Zhao

Saturday, April 27, 2013

Jumpa Fans


"There is an innocence in admiration; it is found in those to whom it has never yet occurred that they, too, might be admired some day."

Inspirasi ini Saya tangkap & tuliskan saat bersiap-siap ke kantor mengenai Anda, sahabat saya yg baik. Teringat reuni dengan beberapa teman lama beberapa saat lalu, Saya terkagum bagaimana waktu bisa mengubah banyak hal.  Untuk Saya mungkin dari jumlah rambut yang tersisa di kepala, utk rekan lainnya mgkn postur "b" alias perut yang tambah maju :), ganti mobil, ganti gaya rambut, ganti rumah, tambah anak, waduh, pokoknya macam-macam.

Kebanyakan kita yg tinggal d ibukota, berpendidikan cukup, dan berkarier, paling tidak selama hidup hampir dipastikan sudah minimal satu kali bertemu dgn tokoh yg kita kagumi. Entah itu selebriti, konglomerat, cendikiawan, maupun tokoh2 terpandang lain yg mewakili "level" popularitas & pengaruh yg bbrp tingkat jauh d atas "level" kita saat ini.

Ketika merenungkan hal ini, saya menangkap tiga perbedaan manusia, yaitu :
1. mereka yang menjalani panggilan hidupnya, 
2. mereka yang berkompromi dengan panggilan hidupnya, 
3. mereka yang hidup secara reaktif tanpa tujuan.

Ada yang bingung apa hubungannya dengan jumpa fans? Mari diperjelas ..

Ketiga (koq mundur? Yang kurang ideal dulu gpp ya..)
===============================
GOLONGAN KETIGA, adalah mereka yg berjumpa tokoh idola tanpa sengaja krn inisiatif tokoh atau pihak ke-3, sama bukan dari inisiatif & kompetensi ybs.
Mungkin krn ada undian atau reality show. Ada/tdknya org tsb tdk berkaitan erat dgn si tokoh.  Bertemu secara kebetulan & amat kecil peluang pertemuan serupa akan berulang.
Begitu juga mrk yg hidup tanpa mengerti tujuan, mrk cenderung hidup secara reaktif.  Jika ada trend dlm karier, mode, sd hal2 tdk terpuji mrk mudah ikut2an, maklum tdk punya tujuan pasti, jadi siapa yg lewat diikuti begitu saja. Mrk umumnya tdk berpengaruh signifikan bagi sesama & seiring waktu yg melaju cepat, hidupnya berlalu begitu saja. Seperti pepatah, "Hidup manusia bagai uap, kini ada, besok tak ditemukan lagi".

Kedua
=======
GOLONGAN KEDUA, adalah mereka yg berjumpa dgn tokoh idola atas usaha sendiri & krn kekagumannya, tp mrk sendiri menjalani hidup yg berbeda arah dgn sang tokoh meski hidup mrk relatif lebih teratur & mapan.
Saat jumpa fans mrk begitu heboh & emosional, tapi setelah berpisah, mrk pulang ke tmpt masing2 & hidup mrk hampir tdk berubah.
Mrk tdk terlalu reaktif. Karena kekagumannya akan sang idola, sebagian mrk menyimpan dambaan utk menjadi spt sang tokoh, namun kekhawatiran2 menahan langkah mrk. Takut dicemooh/ditolak, takut melarat, takut kaya dll (ada ya yang takut kaya? Hehe)
Saya merasa masih ada dlm bilangan kedua ini.  Saya merenungkan pepatah ini, "Mrk yang mendua hati tak akan tenang hidupnya" dan "seperti semak belukar menghimpit benih, demikian kekhawatiran & godaan menghimpit benih perkataan Tuhan hingga mati & tdk bertumbuh dan tdk berbuah".
Terdengar atau tdk, Tuhan memperkatakan sesuatu atas hidup kita saat kita terlahir, spt saat Ia berkata, "Jadilah terang", saat Ia mencipta, Ia memperkatakan tujuan ciptaan tsb.  Beliau bersedih melihat banyak org nampak "sukses" dan "makmur" namun tdk memenuhi perkataan-Nya.  Adakah kita mencari tahu disuruh menjadi apakah kita olehNya?

Pertama
=======
GOLONGAN PERTAMA .. Manusia2 pemberani ini merespon kekaguman mrk dgn memantaskan diri mrk hingga tiba saat berkah itu dimana krn alasan profesi mrk "diharuskan" bertemu dgn tokoh2 idola mrk.  Sebagian malah bertemu krn sedemikian kompeten hingga sang tokoh mencari mrk krn mrk "dibutuhkan".  Biasanya pertemuan itu akan terulang lagi bahkan lebih sering & diskusinya akn lebih bermutu.
Sama spt golongan 3 & 2, mrk tentu bahagia & terharu.  Namun apa yg berbeda?
Mereka memberanikan diri utk melesat melampaui sekedar kekaguman dan keinginan bertemu. Mrk menemukan tujuan perjalanan mrk dan itu seringkali bukanlah sekedar utk menjadi spt tokoh yg mrk kagumi.  Mrk menemukan perkataan Sang Pencipta, mentaati dorongan hati & berani mempercayakan diri pada Dia yg memanggil mrk. Mrk berani percaya bahwa Dia setia & sesederhana itu .. mrk bertindak.

Tuhan yg baik itu berjanji bahwa siapa mencari Dia sepenuh hati mrk akn menemukan Dia.
Duh, ketemu Tuhan?  Ada yg berpikir itu terlalu klise, ada yg blm apa2 sudah pingsan ketakutan.
But don't you know? Tuhan Sang pencipta bumi ini pun ingin kita "membumi". Bertemu Tuhan, ternyata bukanlah hal yg terlalu klise, apalagi jauh dari jangkauan.  Bahwa pertemuan itu adalah atas seijin beliau ..memang benar, namun saat kita mengalaminya, hal itu bisa saja begitu dekat & simple hingga kita tak menduganya, mungkin lewat email yg kita baca, reklame yg terlintas di perjalanan, apapun. Namun satu hal yg pasti Ia berjanji bahwa saat kita berjumpa dgn Nya, hal yg pasti menjadi tanda yg akan tinggal dlm hati kita adalah :

1. Diberitahukannya hal2 besar yg tdk kita ketahui sebelumnya.
2. Diberitahukannya apa yg harus kita katakan di dpn para "penentang".
3. DiantarNya kita ke "Tanah Perjanjian", ke tempat (lokasi, posisi, otoritas, komunitas, dll) dimana Ia mau kita berada.

Dan krn jari jemari lentik saya sudah pegal, Saya hanya ingin mengingatkan bhw semua janji Tuhan mengarahkan kita utk memiliki perjalanan hidup penuh semangat, tak peduli apa tantangan & duka yg menjadi polisi tidur nya, dilema yg menjadi persimpangannya & masalah yg menjadi tikungan tajam nya.

Semoga esok kita bak tersadar dari mimpi bahwa telah Tuhan pertemukan kita dgn org2 besar dlm perjalanan kita menuju rencanaNya yg terbesar.

Blessings
from your exhausted BB-typing Illustrator

Felix Zhao




Friday, April 26, 2013

Nikodemus, Kualitas Seorang Pemenang




Sambil mencari-cari artikel mengenai kehidupan Nikodemus sebagai bahan renungan komunitas sel band Saya, Saya menemukan terjemahan Yunani dari nama tersebut.  Nama “Nikodemus” diambil dari nama Yunani “Νικόδημος” (Nikodemos) yang berarti “pemenang di antara kaum/bangsa nya”.  Nikodemus sendiri memiliki peran dan kisah yang unik di mana sebanyak tiga kali ia muncul dalam kisah Injil Yohanes.  Yang mengejutkan adalah bahwa dalam ketiga peristiwa tersebut ia ada bersama dengan Yesus.  Kita akan menemukan lebih banyak kejutan dan pesan-pesan yang luar biasa seiring penelusuran kita.



1. Keterbukaan Hati yang Membuka Jalan kepada Pewahyuan

Saat kita mengawali kisah pertama pemunculan Nikodemus (Yohanes 3:1-21), Saya yakin beberapa dari kita yang telah akrab dengan kisah ini tidak terpikir untuk segera bertanya kepada diri sendiri bagaimana bisa seorang Farisi seperti Nikodemus terlibat dalam dialog yang begitu hangat dan menginspirasi dengan Yesus Kristus.  Karena kebanyakan kita mengetahui bahwa sepanjang sejarah banyak orang-orang Kristen yang memahami hubungan antara Yesus dengan kaum Farisi sebagai hubungan yang disfungsional / tidak harmonis.  Orang Farisi memaki Yesus dan Yesus balas memaki. 

Namun kini kita temukan, seorang Farisi, menatap mata Sang Anak Manusia saat Ia mengumandangkan suatu pernyataan bersejarah, siapakah Ia sebenarnya dan bagaimana seseorang dapat memiliki jalan masuk kepada Tuhan di dalam kekekalan untuk selamanya.  Bukan seorang nelayan Galilea yang bersahabat, bukan seorang pedagang atau tukang kayu Yudea yang rendah hati,namun seorang Farisi, yang biasa dikenal dengan keangkuhan dan kebencian mereka kepada Yesus.

Sambil membuka referensi berharga lainnya mengenai Nikodemus, Saya menemukan bahwa ia bukanlah seorang Farisi biasa, ia adalah anggota Sanhedrin, mahkamah agung Israel kuno.  Dengan pemahaman yang prima akan Hukum Taurat, Firman Allah dan pengajaran para nabi di masa dahulu ia berkata, 

"Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."  (Yohanes 3:2)

Hampir setiap orang Farisi mempertentangkan Taurat dan Kitab Suci dengan Yesus, tetapi tidak Nikodemus.  Hati yang terbuka telah memberikan Nikodemus kerangka berpikir dan sudut pandang dengan benar, adil, dan seimbang terhadap Yesus.  Dan sebagai hasilnya kemenangannya tercatat selamanya dalam Injil saat dia mengungguli semua rekan-rekannya, menjadi saksi saat Yesus mengatakan untuk pertama kalinya tentang perlunya sebuah kelahiran kembali secara spiritual dan tujuan kedatangan-Nya. Hanya dengan hati yang terbuka kita bisa menghindari muslihat pikiran dan menerima wahyu yang benar dan jelas dari Tuhan melalui hal-hal yang kita tahu, jika tidak kita akan berbalik melawan Allah dengan menggunakan pengetahuan kita sendiri.  Hati yang terbuka membuka jalan bagi pewahyuan.



2. Kerendahan Hati Menyenangkan Allah



Kesempatan kedua adalah di hadapan umum dan tidak begitu menyenangkan.  Tercatat dalam Yohanes 7:43-52 bahwa ketika orang-orang Farisi marah oleh ajaran-ajaran Yesus dan tentu saja, popularitas-Nya, mereka mencoba menangkap Dia, sekali lagi berdasarkan pengetahuan mereka.  Mereka bersikeras bahwa latar belakang Yesus dan – pada saat itu entah bagaimana kemudian mereka jadkan dasar untuk menyimpulkan daerah asal-Nya – menjadi alasan yang cukup baik untuk menempatkan Yesus di balik jeruji dan menghentikan pelayanan-Nya.


"Yah, Dia bergaul dengan orang Galilea, Dia mulai ajaran-ajaran-Nya dari Galilea, tidak ada nubuatan yang mengatakan tentang seorang nabi yang datang dari Galilea, jadi Dia orang Galilea!"  Wah, hebat sekali teman-teman ...


Wow, mereka tidak repot-repot bertanya kepada Yesus.  Mereka berasumsi. Mereka berprasangka dan lupa untuk melakukan apa yang benar, mereka lupa untuk berkomunikasi, mereka melumpuhkan kemampuan mereka sendiri untuk menganggap bahwa seseorang yang mereka aniaya mungkin tidak bersalah.


Mereka begitu menjunjung tinggi diri dan prasangka mereka dan menggunakan Hukum Taurat untuk melayani agenda mereka sendiri.  Mereka memaksakan Yesus ke dalam “kotak” mereka dan jika Dia tidak pad di dalamnya maka Dia bukan Tuhan.  Saya pikir itu bisa dimengerti, karena saya sendiri dalam semangat saya untuk Tuhan dan upaya membela nama-Nya mungkin melakukan hal yang sama.  Tapi sekali lagi – ya ampun – sekali lagi, tidak demikian dengan Nikodemus!


Pada masa mereka tidak memiliki hak Miranda (hak yang dibacakan dalam penangkapan seorang tersangka di Amerika Serikat), mereka tidak memiliki semua pakta atau perjanjian yang indah tentang mengenai hak asasi manusia maupun praduga tak bersalah.  Namun demikian, Nikodemus tetap muncul sebagai pemenang di depan rekan-rekannya, di depan masyarakat, bahkan di depan peradaban waktu itu, ia membela kebutuhan manusiawi Yesus untuk ditanyai dan diadili.  Dia lakukan itu dari kerendahan hati bahwa tidak ada seorangpun yang lebih tinggi dari hukum.  Dan dengan kerendahan hati, ia menempatkan Yesus di tempat yang tepat.


Tentu saja kita tahu ribuan tahun kemudian bahwa Yesus sebenarnya sama sekali bukan orang Galilea asli. Tentu saja kita tahu sekarang bahwa Dia sebenarnya seperti para ahli agama yang cerdas dan penghafal ayat tersebut katakan: 
”Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” (Yohanes 7:42) – Yesus MEMANG lahir di Betlehem, Yesus MEMANG berasal dari garis keturunan Raja Daud, dan Yesus ADALAH Mesias.

Nikodemus mungkin nampaknya telah kalah dalam sebuah perdebatan, namun ia memenangkan perkenanan Allah.  Meskipun kita tahu bahwa akhir kisah tersebut bukanlah mengenai pembelaan yang berhasil bagi Yesus.  Namun sebaliknya, kehancuran-Nya, sengsara-Nya, dan akhirnya kematian-Nya lah yang membawa akhir bahagia bagi umat manusia, dan lewat semuanya itu, kebangkitan-Nya lah yang terus memberikan kehidupan, pengharapan, dan kemenangan bagi kita.

Setelah segala tindak dan tutur kata, Nikodemus membuktikan dirinya sebagai pencinta kebenaran dan hamba Yahweh, Tuhan Yang Mahakuasa yang dilayaninya dengan rendah hati.
Kita tidak akan pernah menjadi pemenang jika kita memperlakukan Allah dengan tidak benar.  Kerendahan hati memampukan seseorang untuk memperlakukan Allah dengan benar.  Kerendahan hati menyenangkan hati Tuhan.

3. Hanya Mereka yang Bergairahlah yang Mencapai Impian-Impian Allah

Sore itu adalah sore yang kelabu bagi para pengikut Kristus, sore yang teramat sangat kelam.  Di hadapan mereka terbaring jenazah seorang terhukum.  Dituntut atas penistaan dan tuduhan tanpa bukti mengenai usaha kudeta atas kekuasaan Kaisar, seorang pengkhotbah muda Yahudi telah dijatuhi hukuman mati.  Dialah Yesus sendiri, terbaring di sana, diam, tanpa daya, tanpa nyawa.  Mata yang basah dan berkaca menatap ke bawah sambil mereka menyiapkan pemakaman Harapan mereka sendiri.  Sepasang di antara kumpulan mata tersebut adalah milik Nikodemus.


Saya tak dapat mebayangan  apa yang dirasakannya hari itu.  Sedih?  Putus asa?  Bingung?  Sepertinya kita takkan pernah tahu.  Namun satu hal yang dapat kita perhatikan adalah seseorang yang sedang member penghormatan dengan tindakan terbaik yang dia ketahui masih mungkin untuk dilakukan guna menjunjung seseorang yang baginya begtu mengagumkan, penuh kasih, dan tanpa cela. 

Tindakannya menyumbangkan mur (sejenis wangi-wangian yang rasanya pahit yang digunakan khusus untuk penguburan) dan rempah-rempah untuk pemakaman Yesus mengembalikan ingatan Saya pada peristiwa kurang lebih 30 tahun sebelumnya dimana salah satu dari Tiga Orang Majus mempersembahkan mur untuk Sang Bayi Yesus, secara profetik (nubuatan) mengumumkan tujuan kedatangan Yesus yatu pengorbanan dan kematian.  Nikodemus secara tidak sengaja menggenapi nubuatan tersebut dan dengan demikian turut meneguhkan jatidiri kemesiasan Yesus.  Sebuah tujuan yang tak salah lagi telah dipatrikan Allah ke dalam kehidupan Nikodemus secara khusus dan ia menggenapinya.

Mungkin kita tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita.  Namun saat kita terus melangkah dan mempertahankan gairah, cinta, dan penghormatan kita kepada Allah, seperti halnya Nikodemus, kita takkan pernah tahu hal-hal indah dan besar seperti apa yang sedang dipersiapkan Tuhan untuk kita miliki, alami, dan capai.

Seiring berlalunya kita dari musim kehidupan yang satu kepada yang lainnya, kita akan mulai melihat dan menyadari suatu kebenaran, bahwa segalanya datang untuk pergi.  Apakah yang lebih berarti dan memuaskan selain berhasil melaksanakan rencana Tuhan?  Dapatkah ia dibandingkan dengan apapun yang kita miliki ataupun tidak miliki dalam kehidupan ini?  Karena tidak ada yang dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah selain rahmat karunia-Nya, dan berada bersama-Nya serta melaksanakan segala keinginan-Nya menjadi kebahagiaan dan kepuasan terbesar di atas segalanya.
Sebagaimana sering kita dengan orang berkata “Hanya mereka yang bergairahlah yang berhasil”, Ijinkan Saya mengatakan demikian mengenai Nikodemus, sang pemenang, “Hanya mereka yang bergairah akan Tuhan lah yang berhasil meraih impian-impian Tuhan”.

Tuhan memberkati
Felix Zhao 

Nicodemus, Quality of a Victor


Quality of a Victor

by Felix Kurnia (Notes) on Sunday, March 20, 2011 at 4:34pm
As I looked for the articles on the life of Nicodemus for a weekend short sermon in my band cell group, I stumbled upon a Greek translation of the name.  The name “Nicodemus” was derived from a Greek name “Νικόδημος” (Nikodemos) which means “victorious among his people”.  Now, it happened that Nicodemus himself has a unique role and stories in which he appeared in three separate occasions so noted by the Gospel of John.  In those three occasions surprisingly, he’s with Jesus.  We’ll find more surprises and awesome messages as we move along.


1. An Open Heart That Paves the Way for Revelations

As we begin the first story and appearance of Nicodemus (John 3:1-21), I believe some of us familiar with the story wouldn’t bother to instantly ask themselves how could a Pharisee like Nicodemus be involved with such warm and inspiring dialogue with Jesus Christ.  For most of us know that along the history many Christians understand the relationship between Jesus and the Pharisees as a dysfunctional one.  The Pharisees yelled at Jesus and Jesus yelled back.  But here we have it, a Pharisee, looking at The Son of Man straight in the eye as He proclaimed a historical statement, who He really is and how a person can have access to God in and for eternity.   Not a friendly Galilean fisherman, not a humble Judean merchant or carpenter, but a Pharisee, known for their arrogance and hatred toward Jesus. 

Now, as I open other great and helpful references on Nicodemus, I found out that He’s not just a typical Pharisee; he’s a member of the Sanhedrin, the supreme court of ancient Israel.  With prominent understanding of the Law, God’s Word and teachings of ancient prophets, he said, 

“Rabbi, we know you are a teacher who has come from God. For no one could perform the miraculous signs you are doing if God were not with him.”  (John 3:2-NIV)
 
Almost every Pharisees contradict The Law and The Scriptures with Jesus, but not Nicodemus.  An open heart has provided Nicodemus with a right, balanced, and fair mindset and worldview toward Jesus.  And as a result his victory was recorded forever in the Gospel as he went passed all his colleagues, to be a witness of Jesus saying for the first time about the need of a spiritual rebirth and the purpose of His coming.  Only with an open heart can we avoid the deception of the mind and receive a true and clear revelation from God through things we know, otherwise we’d turn against God using our own knowledge.  An open heart paves the way for revelations.

2. Humility Pleases God

The second occasion was in public and not so pleasant.  It was recorded in John 7:43-52 that when the Pharisees was upset by Jesus teachings and of course, popularity, they tried to make an arrest on Jesus based on their knowledge, again.  They insist that Jesus’ background and which at that time somehow led them to assume His origin was a good enough reason to put Jesus behind bars and stop His ministry. 

“Well, He hangs out with Galileans, He start His teachings from Galilee, no prophecy have said about a prophet coming from Galilee, so He’s a Galilean!”  Well, way the go guys  ...

Wow, they didn’t even bother to ask Jesus.   They assumed.  They have their prejudice and they forgot to do what’s right, they forgot to communicate, they crippled their own ability to presume that somebody they’re persecuting might be innocent.

They put themselves and their prejudice on the pedestal and used the Law to serve their agendas.  They forced Jesus inside their box and if He did not fit, He’s not God.  I thought that was understandable, for I myself in my zeal for God and His defense might have done the same.  But once again – my gosh – once again, not Nicodemus!   

Back then they don’t have Miranda rights; they don’t have all those wonderful pacts or treaties on human rights nor the presumption of innocence.  But still, Nicodemus went out victoriously ahead of his colleagues, ahead of his people, even ahead of his civilization, defending Jesus essential need as a person to be tried and questioned.   He did that out of his humility that no one is above the Law.  And with his humility he put Jesus in a proper place.

Of course we know thousands of years later that Jesus in fact wasn’t at all a Galilean.  Of course we know now that He’s in fact as those smart, scripture and verse memorizing clerics said:

“Does not the Scripture say that the Christ will come from David's family and from Bethlehem, the town where David lived?” (John 7:42-NIV) – Jesus WAS born in Bethlehem, Jesus WAS from King David’s lineage, and Jesus IS the Messiah.

Nicodemus might have lost a debate, but he won favor in God’s eye.  Although we know that the end of the story was not about successful defense on Jesus’ behalf. Instead, it  is His fall, His sufferings, and finally His death that brings happy ending to all of mankind, and through all that, His resurrection has been bringing life, hope, and victory to us ever since.  After all been said and done Nicodemus proved himself to be a lover of truth and a humble servant of Jehovah, the Almighty God that he served.

We can never be winners if we mistreat God.  Humility enables a person to treat God right. Humility pleases God.

3. Only The Passionate for God Achieve God’s Dreams


It was a gloomy afternoon for all Christ follower, the darkest as dark can be.  There before them lay a dead body of a convict.  Charged of blasphemy and the unproved allegations of coup d’état against the Caesar, a young Jewish preacher was sentenced to death.  It was Jesus Himself, laid there quietly, powerless, lifeless.  Eyes filled with tears stared down as they prepare the burial of their own Hope.  Two of those eyes belonged to Nicodemus.

I can’t even begin to imagine what he must have felt that day.  Sad? Frustrated? Confused?  I guess we’ll never truly know.  But all we can see was a man paying his respect with the best action he know possible to honor a man whom to him was so admiring, loving, and blameless. The act of donating myrrh and aloes for the burial of Jesus reminds me in the event about 30 years before, in which one of the Three Wise men offered myrrh to little baby Jesus, prophetically announce Jesus’ purpose of sacrifice and his death.  Nicodemus unintentionally fulfilled the prophecy and thus confirmed Jesus’ true identity as the Messiah.  A purpose God unmistakably imprints solely in the life of Nicodemus and he fulfils it.    
We might have known exactly what’s been going on in our lives.  But when we move on and maintaining out passion, love and respect toward God, just as Nicodemus did, we can never know what wonderful and great things God has been preparing in store for us to have, experience, and to achieve.

As we move from one season of life to another, we begin to see and realize one truth; that everything comes to pass away.  What would be more meaningful and satisfying than to achieve God’s plan?  Can it ever be compared to whatever we might have or not have in this life?  For nothing brings us closer to God more than His grace, and to be with Him and to do His will is the greatest joy and satisfaction of all.
As we often heard people say “Only the passionate achieves”, Let me say it regarding Nicodemus, the winner, “Only The Passionate for God Achieves God’s Dreams”.


God bless you
Felix Zhao

Berbuah Sampai Patah


Berbuah Sampai Patah

by Felix Kurnia  on Thursday, September 8, 2011 (FB) at 9:22pm
Hari ini Saya menemukan pemandangan yg menurut Saya sangat unik, saking tak rela melewatkannya, segera Saya bidikkan kamera Blackberry utk mengabadikannya.

Sebenarnya sudah berhari2 saya memperhatikan pohon pisang di halaman belakang kantor Saya, tandan nya begitu penuh berisi & meski semua masih hijau, pisang2 itu sudah cukup besar. Siang ini sesuatu yg mengejutkan terjadi. Baru Saya sadari ternyata batang pohon yg menopang tandan berisi mungkin lebih dari 100 sisir pisang itu telah patah sehingga pohon tsb ditopang oleh beberapa batang besi bekas.
Serius, seumur hidup baru pernah Saya melihat dahan pohon pisang yg patah gara2 keberatan buah!

Pemandangan itu spontan membuat Saya tertegun.  Seolah Saya ditantangnya, sudahkan kamu "berbuah" sedemikian lebat & banyak hingga kamu tak sanggup menopangnya?  Saya dibawa lagi oleh Tuhan yg sungguh baik itu utk bertanya jujur,
"Apa sih makna buah bagi kamu?"
"Apakah ketenaran? Apakah jumlah aset? Apakah banyak rekaman dan karya yg Saya buat? Atau bahkan apakah pesan inspirasi yg non stop Saya ketikkan utk org2?"

Larut malam setelah Saya pulang & menuliskan pengalaman ini, barulah pemahaman menjadi lebih jernih.
Tidak, tentu saja bukan semuanya itu.
St. Paulus mengatakan bahwa buah roh adalah "Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, dan Penguasaan Diri".
Saya tertegun lagi & tersenyum, sungguh terasa Tuhan yg RohNya lembut itu mengajar Saya perlahan, bahkan di tengah kesibukan & kelelahan.

Hanya kasih & kawan2nya lah yg pantas membuat kita melahirkan begitu banyak hal baik hingga "batang" tubuh kita alias "hawa nafsu" jasmani kita ditundukkan atau bahkan dipatahkan olehnya.  Mungkin hingga ekstrem tertentu (bukan dlm konteks tdk menjaga kebugaran), Saya hendak mengutip nasehat kawan lama dan mentor musik Saya,
"Kalau masih muda, bekerjalah sekeras mungkin, walau capek ataupun sakit, tubuh org muda cepat pulih dgn istirahat."

Tubuh kita tdk pantas dilelahkan oleh hal2 yg tdk sejati & tdk bernilai kekal, pikiran kita diciptakan utk mengatakan "sorry, ak ga level" sama BT, negative thinking, kekhawatiran, egoisme & kepentingan sesaat.

Oya, bagaimana kabar si pohon pisang? 

Setelah Saya tinggal bekerja kira2 satu jam, Saya kembali ke lokasi yg sama.  Saya sungguh terkejut krn ternyata pohon itu ternyata sudah ditebang & buah dari tandang raksasa itu sudah dipotong2 dlm tandan2 yg lebih kecil.  Ternyata hari itu manajemen yg memang sudah Saya ketahui mempunyai rencana perapihan dan pemangkasan tanaman menjalankan rencana tsb.  Saya hanya tak menyangka bahwa 1 jam sblmnya adalah kesempatan terakhir utk mengabadikan si
pohon.  Dengan bergetar saya memandangi kembali foto yg baru sejam lalu saya ambil.  Nothing last forever :)

Hari ini, pohon pisang yg malang itu mengajarkan hal penting kpd Saya & mudah2an utk kita semua.

Kita semua tahu, saatnya akn tiba utk kita mempertanggungjawabkan semua aksi kehidupan kita.  Kita hanya tak pernah tahu kapan saatnya.  Bahkan tak ada yg tahu apa yg akan terjadi pada siapapun termasuk diri kita sendiri satu jam dari sekarang.  Yg akan tertinggal adalah tandan2 hati kita yg dinikmati (atau menyakiti) org2 yg kita tinggalkan kelak.

Let's be honest. Selama hidup dlm dunia kita butuh uang & harus cerdik, namun apa yg jadi agenda tersembunyi kita di balik siasat & alokasi aset kita (uang, waktu, dll), itulah indikator kepada siapakah kita berpihak, siapakah atau apakah yg kita sembah.

Kata bijak dlm kitab suci menyampaikan bahwa inti dari semua hukum Tuhan & kitab para nabi adalah mengasihi Tuhan segenap hati & mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Saatnya mereinventarisir dan hidup utk hal2 terpenting. Love God, love people.

Blessings,
Wartawan pohon pisang

Felix Zhao